Masih mampukah kita menerima kenyataan?

Masih mampukah kita menerima kenyataan?

Sebutkan manusia mana yang tidak nyata? Atau hidup dalam ketidaknyataan?

Tidak satupun

Jika ada manusia yang tidak nyata, tentu saja mereka bukanlah manusia dan setiap manusia pasti memiliki kenyataan hidup mereka masing-masing. Kita pun begitu, sebagai manusia yang nyata sudah sewajarnya jika kita harus mampu menerima kenyatan kehidupan kita sendiri apapun kondisinya.

Dari berbagai macam level kenyataan, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi kenyataan tersebut. Dari level yang paling rendah seperti mencium bau kaki teman kita yang sangat menusuk. Kemudian kita menjadi gelisah. Kita ingin sekali menegur dia namun kita terkadang sungkan atau ternyata kita berani menegurnya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan? Tergantung perasaan kita. Jika memang kita berani menegur, pasti kita akan menegurya dan jika kita sungkan, maka kita tidak menegur atau pindah ke tempat lain.

Intinya disini adalah perspektif kita, cara pandang kita terhadap suatu kenyataan bahwa teman kita itu kakinya bau. Bisa jadi kita suka dengan bau kakinya atau kita tidak bisa bernapas karenanya. Jika kita suka maka perasaan kita pasti bahagia, jika tidak maka perasaan kita menjadi gelisah.

Kemudian kita dihadapkan dengan kenyataan yang lebih pahit, kejadian yang kita kurang bisa terima. Misalnya jika anak sekolah, tidak lulus. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan sudah terlambat. Hasil ujian sudah keluar dan kita dinyatakan tidak lulus. Tidak sedikit dari kita yang mampu menahan rasa malu dan sesal.

Lalu bagaimanakah ini bisa kita hadapi? Segala sesuatunya balik lagi kepada diri kita masing-masing. Kita sendiri tahu kita salah dan tentu saja ada akibat dari apa yang kita perbuat. Hal ini tidak akan bisa terobati hanya dengan kata-kata. Sedari muda kita harus bisa menerima kenyataan kehidupan dari kegagalan level terendah hingga tertinggi. Karena dari situlah kesuksesan level terendah hingga level tertinggi dapat kita capai.

Jika kita memilih untuk bangkit dari pada sibuk memikirkan kagagalan kita karena tidak lulus sekolah, maka ada kesuksesan kecil yang bisa kita rasakan. Yaitu perasaan untuk tetap melanjutkan hidup. Ada banyak masalah diluarsana. Sebagai manusia, kita seharusnya tidak menghakimi bahwa masalah kita adalah yang terberat. Apalah artinya tidak lulus sekolah, jika 10 tahun dari sekarang ternyata kita menjadi sangat sukses. Bagi yang lulus, nikmatilah kesuksesan kita saat ini dan terus berupaya untuk kehidupan selanjutnya.

Kemampuan untuk menerima kenyataan sebenarnya dinilai dari kemampuan kita untuk terus berproses di dunia ini karena kita masih hidup dan bernapas. Untuk mampu menjaga perasaan kita menjadi lebih baik, teruslah bersyukur. Carilah cara-cara yang positive bagaimana kita bisa membawa perasaan kita menjadi lebih baik. Mungkin tidak merubah apapun dari hasil hari ini namun dengan semangat yang baru, kita akan lebih semangat dan percaya diri untuk memulai lagi kehidupan kita yang tertunda dikarenakan kenyatan yang kita kurang terima.

Jika pikiran kita telah terbuka, dan kita memiliki pengertian yang baik tentang hidup kita yang terjadi saat ini maka kita pasti mampu menerima kenyataan hidup kita masing-masing apapun kondisinya. Tentu saja kita harus memunculkan perasaan bahwa kita ingin menjadi lebih baik lagi dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kita perlu membuka hati dan pikiran kita akan pemikiran baru tentang arti kehidupan kita.

Hal ini bisa kita tingkatkan dengan membaca lebih banyak buku, mendengarkan nasehat, belajar dari kesalahan orang lain dan lainnya. Kita akan sangat butuh informasi yang tepat untuk perbaikan kepribadian kita agar menjadi lebih damai. Kita bisa memilah-milah berbagai informasi dan kita pasti bisa memilih informasi mana yang membuat kita tenang.

Terimalah bahwa kita mungkin akan melakukan kesalahan karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman kita. Biarkanlah hal itu menjadi wajar. Karena dengan begitu kita bisa tahu apakah hal tersebut salah atau benar. Karena hanya dengan kesalahanlah, kita bisa belajar dari ketidaktahuan kita. Biarkanlah diri kita diproses oleh kehidupan.

Berbahagialah karena kita kita masih hidup di dunia ini, artinya kita termasuk golongan orang – orang yang mampu menerima kenyataan. Memilih untuk melanjutkan hidup kita apapun kondisinya.

Tuhan masih punya rencana dalam hidup kita. Kalau kita harus mati, bisa saja tiba-tiba Tuhan mendatangkan bencana dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Marilah bersyukur ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *