Ketika keinginan kita belum menjadi kenyataan

Ketika keinginan kita belum menjadi kenyataan

Sebutkan manusia di dunia ini yang tiap – tiap keinginannya menjadi kenyataan?

Tidak satupun …

Setiap manusia pasti memiliki keinginan dalam diri masing-masing. Keinginan ini bervariasi, ada yang ingin membuka usaha, ada yang ingin menjadi langsing, ada yang ingin punya mobil, ada yang ingin dicintai, ada yang ingin mencintai. Ada berbagai macam keinginan dalam hati manusia.

Namun jika keinginan itu belum menjadi kenyataan dan disertai dengan kegagalan, kita pasti kecewa, sedih dan berbagai macam pikiran negative serta perasaan sedih mulai bermunculan dalam benak kita masing-masing. Jika perkara itu masih dalam skala kecil maka mungkin kita akan mudah untuk bangkit namun jika masalah itu begitu dalam dan pahit. Kita akan mulai terjerumus dalam pikiran negative dan perasaan yang begitu sedih.

Lalu bagaimana cara kita bisa keluar dari zona keterpurukan tersebut. Sebenarnya semua itu hanyalah perasaan kita, perasaan kita yang tidak sanggup menahan rasa kecewa. Maka cara terbaik untuk keluar dari zona tersebut adalah dengan mengubah perasaan kita. Tentu saja ini tidak mudah. Hal ini perlu latihan.

Latihan terbaik adalah mulai melihat sisi-sisi baik yang ada dan terjadi saat ini dalam hidup kita. Sekecil apapun itu, kita harus bisa melihat dan memperhatikan hal tersebut sampai hal itu benar – benar nyata kita rasakan. Contohnya saja bernapas. Sewaktu kita sedih, apa kita tidak bernapas? Sewaktu kita mau bunuh diri, apa kita tidak benapas? Jika kita belum sadar bahwa kita bernapas. Berarti kita adalah manusia yang kurang bersyukur.

Jika kita kurang bersyukur, bagaimana bisa kita bahagia? Bagaimana bisa kita merubah kesedihan menjadi kebahagiaan jika kita tidak bisa atau lupa mengucapkan syukur ketika kita bernapas. Apa bisa dengan tidak bernapas kita meraih keinginan kita atau menikmati keinginan kita itu saat tercapai? Jadi selagi ada napas, kita masih memiliki kesempatan untuk menggapai keinginan kita. Mungkin tidak hari ini namun bisa saja besok.

Tentu saja untuk bisa bersyukur kalau kita ini masih benapas tidaklah mudah, perlu latihan. Kita harus bisa merasakan rasa syukur bernapas tersebut seperti perasaan kita ketika keinginan kita menjadi kenyataan. Tidak mudah, Karena hal ini harus dijadikan kebiasaan, rutinitas. Ketika bersyukur menjadi kebiasaan dalam hidup kita sehari – hari, kita akan mulai melihat banyak hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan kita. Kita mulai menghargai apa yang kita punya.

Keinginan yang belum menjadi kenyataan bukan berarti kita tidak akan pernah mendapatkannya namun itulah yang kita butuhkan. Kita membutuhkan kegagalan tersebut, kita butuh kekecewaan tersebut untuk menjadikan kita manusia yang lebih kuat dan lebih bijaksana. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, namun kita tidak, kita hanya bisa membuat berbagai macam keinginan bahkan dengan target yang terlalu tinggi. Ketika keinginan kita sesuai dengan yang kita butuhkan maka kita akan sangat bahagia, aman dan tentram.

Karena keinginan manusia bisa terbentuk dikarenakan berbagai motive seperti lingkungan, keinginan orang tua, atau termotivasi dari berbagai macam sumber, uang, dan factor eksternal lainnya. Apabila kita gagal, kita mulai merasa tidak mampu, menyalahkan orang lain, lingkungan, kehilangan uang, sedih yang mendalam, depresi, bahkan bunuh diri dikarenakan ekpetasi kita antara diri kita dan orang lain. Kita mulai memperhitungkan pendapat orang lain bahkan membandingkan diri kita dengan orang lain. Padahal setiap manusia itu berbeda.

Keinginan yang sejati adalah keinginan yang datang dari diri kita sendiri. Ada yang menyebutnya passion atau insting. Ini adalah keinginan yang walaupun kita gagal, kita akan merasa bahagia karena kita lebih dekat dengan keinginan kita tersebut. Biasanya ini adalah keinginan yang besar dimana inilah yang menunjukkan jati diri kita terhadap diri kita sendiri. Tidak ada satu manusiapun yang bisa sanggup kita bandingkan kecuali dengan diri kita sendiri. Cobalah luangkan waktu untuk mendengarkan suara hati dan mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup kita.

Bisa dengan berdoa, bermeditasi, atau merenung. Cari tempat yang tenang, dimana kita bisa diam dan kita bisa melihat kedalam diri kita. Dimulai dengan bersyukur, dimulai dengan mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah, napas yang masih di beri, apa saja hal – hal baik dalam diri kita sebagai manusia. Mulailah memperhatikan hal-hal kecil yang sering kita lupakan dan mulai mensyukurinya. Dengan begini kita akan lebih siap dan percaya diri akan hari esok, kita mulai membangkitkan diri kita dari perasaan putus asa kepada perasaan coba lagi.

Hal yang paling sensitive adalah pikiran-pikiran yang membandingkan diri pada orang lain. Kita senang karena kita lebih baik darinya, atau kita sedih karena kita lebih buruk darinya. Pikiran ini tidak akan pernah membuat kita bahagia. Kita mungkin akan termotivasi namun kita juga bisa depresi. Perlu diperhatikan bahwa unsur orang kedua itu tidak ada. Kita harus bisa mengesampingkan pikiran ini. Agar tingkat konsistensi untuk menggapai keinginan kita tetap terjaga. Kita akan lebih bahagia dalam mencapai keinginan kita jika setiap kegagalan yang kita lalui adalah pembelajaran untuk menjadi lebih baik dan pengalaman yang tidak semua orang bisa melaluinya.

Akan selalu ada jatuh dan bangun, selama kita hidup di dunia ini. Pastikan bahwa itu semua normal adanya. Hal yang terutama adalah bagaimana kita menyikapi hidup kita masing-masing. Bukan hidup orang lain. Namun diri kita sendiri. Kita dan diri kita sendiri. Hanya kita yang mampu membuat kita bahagia, semua ada dalam pikiran kita, dan tentu saja hal ini perlu dilatih.

It’s Oke, ketika keinginan kita belum tercapai. Tetap belajar menjadi pribadi yang lebih baik terutama untuk diri sendiri. Pandai-pandai bersyukur agar kita bisa berbahagia dan bangkit dari kesedihan. Coba lagi untuk keinginan kita yang belum tercapai. Dengan kosisten, kita akan semakin dan semakin dekat dengan keinginan kita. Ingatlah, Tuhan tahu yang kita butuhkan, ketika keinginan sejalan dengan yang kita butuhkan, keinginan kita akan lebih bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *