Siapakah lawan kita yang sebenarnya?

Siapakah lawan kita yang sebenarnya?

Sering kali kita mendengar barbagai berita tentang orang jahat dan orang baik, siapa lawan dan kawan, siapa yang pantas dihukum dan siapa yang pantas dibebaskan, Siapa yang pantas dipuji dan siapa yang pantas diolok-olok? Siapa yang benar dan siapa yang salah. Daftar yang saling bertentangan ini akan terus dan terus bertambah. Namun pernahkah kita berfikir siapakah lawan dan kawan kita yang sebenarnya?

Ketika kita merasa orang lain benar, dia akan menjadi kawan kita, dia adalah pihak yang baik yang pantas dipuji. Sebaliknya, ketika orang yang sama melakukan hal yang menurut kita salah maka kita mulai menulainya buruk, jahat dan menjadi lawan kita. Tapi apakah bisa kita menjamin dengan yakin bahwa orang lain itu salah? Mungkinkah pendapatnya bisa saja benar, kita hanya tidak tahu saja lalu dengan cepat kita mulai menilai dia salah? Tentu saja belum tentu.

Sadarkah kita, saat ini kita telah menghabiskan waktu  kita yang berharga memikirkan apakah orang lain itu benar ataupun salah? Sadarkah kita bahwa ide-ide orang benar dan salah ternyata hanya bermain-main dikepala kita dan berusaha membuat kita menghabiskan waktu kita untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih efektive untuk kita? Mengerjakan pekerjaan yang lebih berguna untuk kita? Sadarkah kita, kalau otak kita sedang berlika liku dengan apa yang orang lain lakukan yang mungkin saja jika kita pikir seribu kalipun tidak akan menghasilkan apa-apa selain perasaan kita yang semakin buruk.

Sadarkah kita yang sedang membahas hal menarik yang tidak penting untuk kehidupan kita? Sadarkah kita telah memikirkan hal yang tidak perlu kita bahas? Sadarkah itu semua adalah gossip kehidupan orang lain yang jika kita pikirkan seribu kalipun tidak akan merubah keadaan mereka? Sadarkah kita, ada hal kecil yang perlu kita selesaikan dahulu dalam hidup kita pribadi sebelum mimikirkan orang lain, tapi tidak terselesaikan karena kita sibuk memikirkan orang lain? Sadarkah kita terus manaruh harapan kepada orang lain tapi lupa bahwa kita pun menjadi harapan bagi orang terdekat kita?

Sadarkah kita? Bahwa kita hidup hanya dengan tubuh dan otak kita saja. Jika teman kita pintar, belum tentu kita menjadi pintar karena apa? Karena Tuhan itu maha adil. Tidak dibiarkannya kita bisa memindahkan otak dia dengan otak kita sehingga kita pun menjadi pintar tanpa belajar. Perhatikanlah diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita melihat orang lain. Sudahkah saya lebih baik darinya? Sehingga saya pantas menilainya. Jadi kita sibuk dengan pendapat orang lain tanpa kita sadari bagaimana kita dimata diri kita sendiri…menataplah kepada cermin, disitulah orang yang sebenarnya yang pantas kita nilai.

Jika begitu, siapakah yang menjadi lawan kita yang sebenarnya? Tentu saja diri kita sendiri, pikiran-pikiran kita sendiri. Berbagai macam ide-ide dan informasi didalam otak kita berusaha untuk melakukan tawar menawar tentang apa yang terjadi di lingkungan kita. Kita akan sangat mudah merasa sangat buruk dan sedih ketika hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tidak terima dengan kenyataan dan takut menghadapi keadaan, pikiran tersebut bisa menyudutkan kita sampai badan kitapun menjadi lemas dan hancur lebur.

Kita sibuk memikirkan orang lain tapi kita lupa dengan diri kita yang rapuh jiwanya. Kita tidak terima dengan apa yang orang lain lakukan tapi pernahkah kita luput dari kesalahan? Pasti semua manusia pernah melakukan kesalahan. Lalu kenapa kita tidak fokus pada ide –ide yang memperbaiki diri kita? Lalu kenapa kita tidak meningkatkan kualitas berfikir kita? Lalu kenapa kita tidak belajar membangun mental yang kuat agar kita menjadi pribadi yang lebih baik? Kenapa kita sibuk dengan ide-ide bahwa orang lain harus berubah demi kebaikan? Kenapa bukan kita yang semakin dan semakin meningkatkan diri untuk menjadi yang terbaik?

Ingatlah, manusia bisa berubah. Siapapun itu manusia bisa berubah karena waktu tidak pernah berhenti. Malam berganti siang dan siang berganti malam. Namun semua perubahan hanya bisa datang jika ada kemauan dari diri sediri. Mau kita berkoar-koar seribu kalipun, jika dia tidak mau berubah….tidak akan pernah berubah. Dari pada sibuk merubah orang lain, lebih baik menjadi inspirasi buat orang lain untuk berubah dengan cara merubah diri sendiri terlebih dahulu.

Menanamkan pikiran positive terhadap diri sendiri bukanlah hal yang sia-sia, semua itu membuat kita lebih mudah menerima kenyataan dan fokus pada perbaikan diri kita sendiri. Karena walaupun kita berfikir seribu kalipun tentang orang lain, hal itu tidak akan merubah apapun pada hidup kita sampai kita sendiri bertindak sesuatu pada hal yang membuat diri kita sendiri lebih baik. Ide akan tetap menjadi Ide baik itu benar maupun salah. Semua informasi yang kita punya, selagi semua itu ada didalam otak kita, tidak akan berfungsi.

Seperti sebuah buku, jika tidak di baca maka tidak ada gunanya. Ia akan menjadi tumpukan kertas sebagus apapun buku itu di buat dan seberguna apapun informasi didalamnya. Satu-satunya alat yang membuat buku itu berguna adalah otak kita. Otak kitalah yang meresap informasi di buku itu. Lagi-lagi jika kita tidak melakukan apa-apa terhadap informasi yang kita baca, Ia pun akan berlalu.

Namun tanpa informasi, otak kita akan terus dan terus terperangkap dalam pemikiran yang lama. Masih mending jika informasi itu membuat kita bahagia, kalau membuat kita sedih, marah ataupun kesal maka bertambah rugilah kita. Bukan berarti kita berhenti menggali informasi namun terus mencari informasi yang bisa kita terapkan. Karena hanya pada waktu kita dapat terapkan, buku tersebut menjadi berguna.

Ingatlah, hanya manusia yang menjadikan segala sesuatu menjadi lebih hidup. Tanpa manusia didalamnya, tidak ada warna warni kehidupan. Namun kita sering kali menutup warna terbaik kehidupan kita dengan warna kehidupan orang lain. Padahal tidak ada yang lebih indah dari pada warna kehidupan kita sendiri, karena segalanya ada didalam otak kita. Ketika kita bisa selangkah lebih baik dari kita yang sebelumnya, pasti warna kehidupan kita lebih terang dan kita lebih bahagia.

Begitu banyak informasi yang kita terima, pandai-pandailah mengatur diri, mana yang baik dan mana yang tidak berguna buat kita. Mana yang produktif dan mana yang hanya akan tetap menjadi pikiran walaupun kita pikir seribu kalipun tentang hal itu, sepenting apapun pikiran itu. Semua lawan dan kawan, semua ada didalam pikiran kita. Kita yang membuatnya dan kita yang menentukan apakah hal itu jahat atau baik.

Tapi apakah perlu kita memikirkan siapa lawan kita yang sebenarnya? Sedangkan kita lupa dengan diri kita sendiri? Kawan sejati yang tidak kita urus? Lupakah kita dengan diri kita sendiri, ada banyak orang yang juga menaruh harapan kepada kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik? Tapi dengan sibuknya kita menghabiskan waktu memikirkan orang lain? Pendapat orang lain? Ide orang lain? Kehidupan orang lain? Apapun informasi yang datang kepada kita, jika tidak dapat diterapkan demi meningkatkan diri kita, lupakanlah itu.

Karena masih banyak informasi dan ide-ide lain yang bisa kita pikirkan dan bisa kita terapkan untuk membuat perasaan kita lebih baik dan bahagia. Kerena jika kita bahagia mengerjakan sesuatu, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Hidup kita lebih bermakna. Sehingga kita tidak perlu memikirkan siapa lawan kita dan siapa musuh kita lagi. Karena itu hanyalah sebuah pikiran. Fokuslah pada pikiran-pikiran yang bisa menjadi kenyataan dan positive agar hasilnya baik. Dimulai dari melakukan apa yang sudah kita jadwalkan hari ini pada daftar harian kita.

Jika seorang anak harus kesekolah, maka tentu saja harinya akan lebih productive jika dia pergi kesekolah dari pada bermain. Jika kita hari ini harus membaca buku satu bab sehari, kita akan lebih bahagia jika menyelesaikannya terlebih dahulu. Jika hari ini ada jadwal seminar, tentu saja jangan sampai kita melewatkannya. Jika harus masak makan siang, maka tentu akan lebih baik jika tepat waktu, jangan sampai makan siang berubah menjadi makan sore karena sibuk gossip. Jika harus orahraga tiap pagi maka harus bangun pagi.

Percayalah tidak ada yang namanya lawan maupun kawan. Kalau orang berbuat salah, membunuh misalnya, ada polisi yang akan menanganinya, namun bisakah hal itu memperbaiki keadaan yang terjadi? Bisakah orang yang dibunuh hidup kembali? Tentu saja tidak. Kita hanya bisa tawakal. Tidak ada gunanya pula memikirkan apakah dia akan menjadi lawan kita. Karena mungkin saja selama di penjara dia bertobat. Atau bahkan besok dia juga mati. Atau bahkan kita yang mati. Intinya, saat kita memikirkan orang lain…itu tidak ada gunanya. Hanya ketika kita memikirkan apa yang harus saya lakukan agar kita mampu menerima keadaan ini dan berusaha memperbaiki dirilah yang bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.

Hormatilah orang lain, tapi ingat berharap kepada orang lain seratus persen itu adalah hal yang sia-sia jika kita lupa memperbaiki diri. Teman belum tentu mau menjadi tempat kita mengadu selamanya apalagi lawan dan inilah yang menjadi penentu betapa negative atau positive pikiran kita pada akhirnya.  Terkadang disaat kawan kita sulit, bukan mereka tidak mau membantu namun mereka tidak mungkin untuk membantu. Lalu siapakah yang bisa kita andalkan? Hanya diri kita sendiri. Persiapkanlah mental kita menghadapi hidup kita, semakin kita kuat maka semakin segalanya terasa lebih mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *