Masih mampukah kita menerima kenyataan?

Masih mampukah kita menerima kenyataan?

Sebutkan manusia mana yang tidak nyata? Atau hidup dalam ketidaknyataan?

Tidak satupun

Jika ada manusia yang tidak nyata, tentu saja mereka bukanlah manusia dan setiap manusia pasti memiliki kenyataan hidup mereka masing-masing. Kita pun begitu, sebagai manusia yang nyata sudah sewajarnya jika kita harus mampu menerima kenyatan kehidupan kita sendiri apapun kondisinya.

Dari berbagai macam level kenyataan, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi kenyataan tersebut. Dari level yang paling rendah seperti mencium bau kaki teman kita yang sangat menusuk. Kemudian kita menjadi gelisah. Kita ingin sekali menegur dia namun kita terkadang sungkan atau ternyata kita berani menegurnya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan? Tergantung perasaan kita. Jika memang kita berani menegur, pasti kita akan menegurya dan jika kita sungkan, maka kita tidak menegur atau pindah ke tempat lain.

Intinya disini adalah perspektif kita, cara pandang kita terhadap suatu kenyataan bahwa teman kita itu kakinya bau. Bisa jadi kita suka dengan bau kakinya atau kita tidak bisa bernapas karenanya. Jika kita suka maka perasaan kita pasti bahagia, jika tidak maka perasaan kita menjadi gelisah. Continue reading “Masih mampukah kita menerima kenyataan?”